Bisnis makanan dan minuman di Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60% (year-on-year) pada kuartal II 2026. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas di bisnis makanan dan minuman masih terus berkembang di tengah ekonomi nasional sebesar 5,25%.
Namun, pasar yang tumbuh tidak otomatis membuat setiap bisnis kuliner mampu bertahan lama. Selera konsumen berubah, pilihan semakin banyak, dan cara orang menemukan hingga membeli makanan ikut berkembang. Sebuah bisnis tidak cukup hanya dikenal, tapi perlu tetap relevan agar pelanggan punya alasan untuk kembali.
Bertahan Lama Bukan Berarti Menjalankan Bisnis dengan Cara yang Sama
Umur panjang sebuah bisnis tidak ditentukan oleh seberapa lama ia mempertahankan cara kerja yang sama. Justru, semakin lama bisnis berjalan, semakin penting kemampuannya untuk memilih bagian mana yang perlu diperbarui dan mana yang tetap dipertahankan.
Es Teler 77 telah berkembang selama lebih dari empat dekade sejak berdiri pada 1982. Dalam perjalanan tersebut, bisnis ini tidak hanya mempertahankan produk yang menjadi bagian dari identitasnya, tetapi juga menyesuaikan cara menjalankan bisnis agar dapat mengikuti perkembangan pasar.
Salah satu langkah penting dalam perjalanan Es Teler 77 adalah ketika bisnis ini mulai menerapkan sistem waralaba sebagai strategi untuk memperluas jangkauan usaha. Pendiri Es Teler 77, Sukyatno Nugroho, melihat bahwa bisnis lokal juga dapat berkembang melalui sistem yang memungkinkan lebih banyak pihak menjadi bagian dari pertumbuhan brand.
Melalui pendekatan ini, ekspansi tidak hanya dilakukan dengan membuka gerai baru, tetapi juga dengan membangun sistem yang dapat diterapkan oleh mitra di berbagai daerah.
Dalam bisnis kuliner, penyesuaian bisa terjadi pada banyak hal, mulai dari format gerai, layanan pemesanan, strategi promosi, hingga penggunaan teknologi dalam operasional.
Perubahan tersebut tidak harus mengubah fondasi brand. Standar kualitas, karakter produk, dan pengalaman yang ingin diberikan kepada pelanggan tetap dapat menjadi pegangan.
Perjalanan Es Teler 77 menunjukkan bahwa konsistensi lebih tepat dilihat sebagai kemampuan menjaga standar di tengah perubahan. Bukan dengan membekukan cara lama, tetapi dengan memastikan bahwa setiap penyesuaian tetap sejalan dengan identitas bisnis.
Produk yang Familiar Tetap Harus Punya Alasan untuk Dibeli Lagi
Produk yang sudah lama dikenal memang memiliki modal berupa familiarity. Namun, dikenal tidak selalu berarti lebih disukai. Sebuah studi dari Maria Mora dan tim yang diterbitkan dalam Food Research International (FRI) pada 2025 menemukan bahwa familiarity terhadap sebuah hidangan bukan pendorong utama tingkat kesukaan konsumen.
Cara penyajian justru yang lebih besar pengaruhnya terhadap respons konsumen. Ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan suatu produk tetap perlu disertai pengalaman yang membuatnya menarik ketika kembali dikonsumsi.
Dalam konteks restoran, kualitas produk tetap menjadi fondasi penting. FRI mencatat aspek makanan merupakan faktor paling penting dalam pilihan dan pengalaman konsumen. Artinya, produk ikonik dapat membantu sebuah brand tetap mudah dikenali, tetapi longevity membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan nama atau nostalgia.
Kualitas perlu terjaga dan penawaran tetap memiliki tempat dalam kebutuhan konsumsi pelanggan. Bagi bisnis yang berkembang selama puluhan tahun, produk yang membawa orang mengenal brand belum tentu menjadi satu-satunya produk yang membuat mereka terus kembali
Saat Jaringan Membesar, Sistem Menjadi Ujian Sebenarnya
Saat bisnis masih berjalan dari satu gerai, banyak keputusan dapat diawasi langsung oleh pemilik. Tantangannya berubah ketika jumlah lokasi dan orang yang terlibat bertambah. Standar produk, pelayanan, bahan baku, hingga cara kerja perlu tetap diterapkan meskipun tidak lagi bergantung pada kehadiran orang yang sama.
Temuan menarik dari Small Business Economics pada 2025 yang meneliti 168 jaringan franchise di empat negara menunjukkan pentingnya transfer pengetahuan dari pusat kepada mitra lokal. Pelatihan dan kunjungan langsung dinilai efektif untuk transfer ilmu operasional yang sulit dijelaskan hanya melalui dokumen.
Prinsip tersebut juga terlihat dalam perjalanan Es Teler 77. Dokumentasi World Intellectual Property Organization (WIPO) mencatat bahwa perusahaan telah menggunakan program pelatihan bagi mitra bisnis yang dilakukan di training centre dan langsung di outlet. Ini menunjukkan bahwa ketika bisnis berkembang, pengetahuan perlu diubah menjadi sistem yang dapat dipelajari dan diterapkan oleh orang lain.
Skalabilitas bukan hanya soal menambah outlet, tetapi memastikan standar tetap dapat dijalankan ketika organisasi semakin besar.
Brand yang Bertahan Tahu Mana yang Harus Berubah dan Mana yang Harus Dijaga
Perubahan tidak selalu menuntut sebuah merek meninggalkan apa yang sudah dimilikinya. Studi yang diterbitkan Humanities and Social Sciences Communications pada September 2026, brand heritage berpengaruh positif terhadap sikap konsumen, dengan nilai autentik menjadi salah satu penghubung penting.
Es Teler 77 telah hadir sejak 1982 dengan es teler dan cita rasa Indonesia sebagai bagian dari identias yang dikenal konsumen. Namun, yang perlu diingat adalah usia panjang sebuah brand tidak dengan sendirinya menjamin kepercayaan konsumen. Komitmen terhadap kualitas berperan signifikan dalam membangun kepercayaan.
Bagi brand yang telah melewati beberapa generasi konsumen, tantangannya adalah menjaga pengenal utamanya tanpa membatasi ruang untuk berkembang. Format gerai, teknologi, kanal penjualan, dan cara berkomunikasi dapat berubah, sementara karakter produk dan identitas yang sudah melekat tetap memiliki fungsi sebagai penghubung dengan brand.
Terlalu sedikit beradaptasi dapat membuat bisnis tertinggal, tetapi perubahan yang terlalu jauh juga berisiko membuatnya semakin sulit dikenali.
Empat Pelajaran dari Perjalanan 44 Tahun Es Teler 77
Perjalanan panjang sebuah bisnis tidak ditentukan oleh satu faktor. Dari pengalaman Es Teler 77 selama 44 tahun, ada beberapa hal yang dapat menjadi pelajaran bagi bisnis kuliner.
- Produk yang sudah dikenal tetap membutuhkan alasan untuk dibeli kembali.
- Kualitas akan semakin sulit dijaga jika pengetahuan dan standar tidak dibangun menjadi sistem.
- Cara menjalankan bisnis perlu bergerak mengikuti perubahan pasar dan kebiasaan konsumen.
- Pembaruan tetap perlu memberi ruang bagi identitas yang membuat sebuah brand dikenali.
Tidak ada formula yang menjamin sebuah bisnis kuliner dapat bertahan puluhan tahun. Ketahanan justru dibangun dari kemampuan menjaga kualitas, memperkuat sistem, membaca perubahan, dan tetap jelas tentang identitas yang ingin dibawa ke masa depan.
Bagi Anda yang sedang mempertimbangkan bisnis waralaba, prinsip tersebut juga bisa menjadi dasar untuk melihat sebuah peluang dengan lebih kritis.
