Perjalanan Es Teler 77 dimulai pada 1982, jauh sebelum bisnis franchise makanan berkembang seperti sekarang. Dari usaha yang berangkat dari produk es teler, yang kemudian tumbuh menjadi salah satu merek yang dikenal dalam industri kuliner Indonesia.
Perkembangannya tidak berhenti hanya pada penambahan outlet. Es Teler 77 juga membangun sistem bisnis yang memungkinkan brand berkembang melalui model waralaba (franchise), sambil tetap mempertahankan identitasnya sebagai bisnis makanan dengan cita rasa Indonesia.
Berawal dari Warung Tenda di Duta Merlin
Setahun sebelum Es Teler 77 berdiri, Murniarti Widjaja memenangkan lomba membuat es teler dengan racikan nangka, kelapa, alpukat, es serut dan sirup buatannya sendiri. Dari sini, muncul ide untuk kemudian menjadikannya sebagai usaha.
Pada 1982, keluarga Muniarti membuka warung tenda sederhana di teras pertokoan Duta Merlin, Jakarta Pusat. Usaha ini dijalankan bersama suaminya, Trisno Budianto, serta putri mereka Yenny Setia Widjaja dan menantunya, Sukyatno Nugroho.
Ciri khas warna hijau dan kuning semakin dikenal masyarakat. Ketertarikan terhadap Es Teler 77 kemudian tidak hanya datang dari pelanggan, tetapi juga dari orang-orang yang melihat peluang untuk menjalankan bisnis serupa. Beberapa tahun kemudian, kondisi ini menjadi awal masuknya Es Teler 77 ke model waralaba.
Mulai Berkembang Lewat Sistem Waralaba
Ketika permintaan mulai tumbuh, Es Teler 77 tidak lagi hanya mengandalkan ekspansi lewat gerai milik sendiri. Model waralaba kemudian menjadi cara untuk memperluas jangkauan brand dengan melibatkan mitra usaha.
Perubahan ini menuntut bisnis berjalan lebih rapi. Resep, pelayanan, operasional, hingga tampilan outlet perlu dibuat lebih konsisten agar pengalaman pelanggan tidak terlalu berbeda antarlokasi.
Dari sini, Es Teler 77 mulai bergerak dari usaha keluarga menjadi bisnis yang bisa direplikasi. Waralaba bukan hanya membuka jalan untuk menambah outlet, tetapi juga mendorong brand membangun standar yang lebih jelas agar bisa dijalankan oleh orang lain.
Perkembangan tersebut kemudian membawa Es Teler 77 ke lebih banyak kota dan memperkuat posisinya sebagai salah satu brand makanan Indonesia yang tumbuh melalui model waralaba.
Baca juga artikel jika Anda ingin tahu ciri-ciri franchise yang layak dipilih
Dari Nama “77” ke Brand yang Siap Dikembangkan
Sebelum berkembang lewat waralaba, Es Teler 77 lebih membangun identitas brand yang mudah dikenali. Yang paling menarik adalah angka “77”. Ide tersebut muncul saat pertemuan keluarga karena angka tersebut dipercaya membawa keberuntungan dalam budaya Tionghoa.
Strategi brand building Es Teler 77 saat itu bisa dibilang unik dan visioner. Sukyatno Nugroho, menantu Muniarti Widjaja, menggunakan cara promosi yang menarik perhatian publik, yaitu dengan mensponsori kegiatan balap becak dan membangun pohon natal terbesar di Indonesia.
Sontak, cara ini berhasil menarik perhatian media, terutama televisi, dan membuat nama Es Teler 77 semakin dikenal. Strateginya sederhana tetapi efektif. Menciptakan sesuatu yang layak diingat dan diberitakan agar brand mendapat exposure lebih luas.
Setelah brand mulai dikenal, langkah berikutnya adalah membuat bisnis tersebut dijalankan di lebih banyak tempat. Es Teler 77 mulai menggunakan sistem waralaba pada 1987.
Catatan World Intellectual Property Organization (WIPO) menunjukkan bahwa model franchise yang dikembangkan saat itu sudah memiliki struktur yang cukup jelas. Masa kerja sama ditetapkan selama lima tahun, dengan royalty fee 4% dan marketing fee 2%. Mitra usaha juga mengikuti program pelatihan selama empat minggu (satu minggu di training centre dan tiga minggu langsung di outlet).
Waralaba Lokal yang Melangkah ke Pasar Luar Negeri
Peran Es Teler 77 dalam perkembangan waralaba Indonesia tidak berhenti pada pembukaan gerai franchise. Pada 22 November 1991, Es Teler 77 tercatat sebagai salah satu perusahaan yang ikut mendirikan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) bersama sejumlah pelaku waralaba lainnya.
Ekspansi kemudian bergerak keluar Indonesia. Cabang internasional pertama dibuka di Singapura sebanyak 3 gerai, disusul 2 gerai di Melbourne, Australia, pada akhir 2007. Dari warung tenda di Duta Merlin, Es Teler 77 akhirnya tumbuh bersama perkembangan industri waralaba Indonesia.
Yang membuat perjalanannya menarik bukan hanya usia brand, tetapi bagaimana produk lokal, cara membangun merek, dan sistem franchise berkembang bersama selama puluhan tahun.
Bagi calon mitra, rekam jejak seperti ini tentu bukan jaminan sebuah outlet akan berhasil. Namun, pengalaman panjang memberi konteks yang lebih lengkap ketika menilai sebuah franchise, bagaimana brand dibangun, seberapa lama sistemnya dijalankan, dan bagaimana bisnis merespons perubahan pasar.
