Blog

Bisnis Franchise Makanan: Bukan Sekadar Beli Brand Lalu Buka Outlet

Bisnis makanan merupakan salah satu bisnis yang paling diminati dan menawarkan keuntungan yang menjanjikan.

Admin

Admin

28 Sep 2026 • 5 Menit Membaca

Bagikan

Bisnis makanan merupakan salah satu bisnis yang paling diminati dan menawarkan keuntungan yang menjanjikan. Tantangannya, tingkat persaingan di industri ini sangat ketat sehingga pelaku usaha dituntut untuk selalu inovatif dan mempertahankan kualitas agar dapat bertahan.

Selain itu, membangun usaha dari nol berarti membangun produk, merek, operasional, hingga sistem pemasaran. Franchise menawarkan pendekatan yang berbeda. Model bisnis ini hadir sebagai langkah strategis bagi pelaku usaha yang ingin meminimalkan risiko kegagalan di tahap awal rintisan. Namun, memilih franchise yang tepat tetap membutuhkan pertimbangan karena tidak semua brand memiliki sistem, pengalaman, dan kesiapan operasional yang sama.

Menurut Data Kementerian Perdagangan perkembangan industri waralaba menunjukkan semakin kuatnya posisi merek lokal. Jika pada 2016 pendaftaran waralaba masih didominasi merek asing dengan porsi 70%, pada Agustus 2026 jumlah Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW) lokal mencapai 169 melampaui STPW merek luar negeri sebanyak 163. Target pertumbuhan industri waralaba di Indonesia pada 2026 mencapai 7%, naik dari target 5% pada 2025.

Data lain yang menarik adalah hingga semester I tahun 2026, industri makanan dan minuman mencatatkan pertumbuhan 6,51% (year-on-year) lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode yang sama sebesar 5,45%, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa franchise telah berkembang menjadi salah satu model bisnis yang semakin diperhitungkan. Karena itu, pelaku usaha harus memahami bagaimana bisnis franchise bekerja, peluang yang ditawarkan, risiko, serta memilih brand yang tepat sebelum mengambil keputusan investasi. 

Franchise Makanan Dibangun dari Sistem, Bukan Sekadar Nama Brand

Banyak orang melihat franchise makanan sebagai cara cepat membuka usaha dengan memakai nama brand yang sudah dikenal. Padahal, nilai utama sebuah franchise bukan hanya terletak pada mereknya, tetapi pada sistem bisnis yang membuat sebuah outlet dapat berjalan secara konsisten.

Dalam model franchise, pemilik brand (franchisor) memberikan hak kepada mitra (franchisee) untuk menjalankan bisnis dengan konsep yang telah dikembangkan. Sebagai gantinya, franchisee menjalankan operasional sesuai standar yang telah ditetapkan agar kualitas produk dan pengalaman pelanggan tetap terjaga. Sistem inilah yang membedakan franchise dengan membangun bisnis makanan dari nol.
 

Ketika Anda membuka usaha sendiri, maka harus mengembangkan hampir seluruh elemen secara mandiri, mulai dari konsep produk, identitas merek, resep, pemasok, standar pelayanan, hingga strategi pemasaran. Dalam franchise, sebagian fondasi tersebut sudah tersedia dan dapat dipelajari melalui sistem yang telah dibangun oleh franchisor.

Brand adalah Pintu Masuk, Sistem adalah Fondasi Operasional 

Nama brand tidak dipungkiri menjadi magnet utama ketika pelaku bisnis ingin melakukan investasi dalam bisnis franchise. Namun, brand yang kuat tidak akan cukup tanpa operasional yang konsisten.

Dalam bisnis makanan, konsistensi menjadi faktor penting karena pelanggan mengharapkan pengalaman yang sama setiap kali membeli produk. Rasa, kualitas bahan, kecepatan pelayanan, hingga standar kebersihan perlu dikontrol melalui sistem yang jelas.

Karena itu, franchise makanan yang baik biasanya memiliki beberapa komponen utama: 

  • Brand dan positioning: Untuk menentukan identitas bisnis serta target pasar. 
  • Produk dan standar kualitas: Ini untuk memastikan rasa dan pengalaman pelanggan tetap konsisten. 
  • SOP operasional: Mengatur proses kerja di outlet atau cabang.
  • Training dan dukungan franchisor: Membantu mitra menjalankan bisnis sesuai standar. 
  • Supply chain: Untuk menjaga ketersediaan dan kualitas bahan baku.

Tanpa lima komponen utama tersebut, franchise hanya menjadi penggunaan nama brand tanpa fondasi bisnis yang kuat. 

Bagaimana Sistem Franchise Dijalankan

Memilih franchise tidak berhenti pada keputusan membeli sebuah paket usaha. Ada rangkaian proses yang perlu dilewati sebelum sebuah outlet mulai beroperasi, dan setiap tahap punya konsekuensi terhadap modal serta kelangsungan bisnis.

Memilih Brand dan Menilai Tawaran Franchise

Tahap pertama bukan langsung membayar franchise fee, tetapi membandingkan beberapa brand yang sesuai dengan modal, target pasar, dan jenis usaha yang ingin dijalankan.
Calon franchisee perlu melihat lebih jauh dari harga paket. Track record brand, produk, jumlah dan karakter outlet, dukungan yang diberikan, serta struktur biaya menjadi bagian penting dalam proses penilaian.

Menentukan Lokasi yang Sesuai

Setelah brand dipilih, lokasi menjadi salah satu keputusan paling menentukan.
Outlet makanan membutuhkan lokasi yang sesuai dengan karakter konsumennya. Traffic yang tinggi saja belum cukup jika orang yang melewati lokasi tersebut bukan target pasar yang dituju.
Karena itu, penilaian lokasi biasanya mempertimbangkan:

  • profil konsumen;
  • jumlah dan kualitas traffic;
  • akses dan visibilitas;
  • kompetitor di sekitar lokasi;
  • biaya sewa;
  • potensi penjualan.

Lokasi yang tepat membantu membuka peluang penjualan, tetapi tetap tidak menjamin outlet akan menghasilkan keuntungan.

Menyiapkan Outlet dan Tim

Setelah lokasi disepakati, proses berlanjut ke persiapan outlet. Desain, peralatan, bahan baku, perekrutan karyawan, dan kebutuhan operasional harus disiapkan sebelum pembukaan.
Training juga menjadi bagian penting pada tahap ini. Tim perlu memahami produk dan standar kerja sebelum berhadapan langsung dengan pelanggan.

Opening Bukan Akhir dari Proses

Outlet yang sudah dibuka baru memasuki tahap operasional sebenarnya.
Pada fase ini, kinerja penjualan, biaya, stok, kualitas produk, pelayanan, dan respons pelanggan perlu dipantau. Hasilnya dapat menjadi dasar untuk melakukan perbaikan pada operasional outlet.
 

Bagi franchisee, fase ini juga menjadi ujian apakah perhitungan sebelum investasi sesuai dengan kondisi pasar yang sebenarnya.

Sistem Franchise Berkembang Bersama Pengalaman Outlet

Model franchise yang sudah berjalan selama bertahun-tahun memiliki satu keunggulan penting: pengalaman dari berbagai outlet dapat menjadi sumber pembelajaran untuk pengembangan sistem.
 

Masalah yang berulang dapat diidentifikasi, proses yang tidak efisien dapat diperbaiki, dan standar operasional dapat disesuaikan dengan perubahan pasar.
 

Karena itu, saat menilai sebuah franchise, usia brand bukan satu-satunya hal yang perlu dilihat. Yang lebih menarik adalah apa yang telah dipelajari dan diperbaiki selama brand tersebut menjalankan bisnisnya.

Es Teler 77 dan Pengalaman Panjang dalam Bisnis Franchise Makanan

Es Teler 77 merupakan salah satu contoh brand makanan Indonesia yang telah menjalankan bisnis selama puluhan tahun. Berawal pada 1982, brand ini berkembang dari usaha kuliner menjadi jaringan franchise.

Baca juga: Bagaimana Awal Perjalanan Es Teler 77 yang mempelopori bisnis waralaba
 

Perjalanan panjang tersebut relevan bagi calon franchisee karena bisnis makanan tidak hanya membutuhkan produk yang disukai pasar, tetapi juga kemampuan menjaga kualitas dan beradaptasi ketika kondisi pasar berubah.
 

Cita rasa Indonesia menjadi bagian dari identitas Es Teler 77. Produk yang dekat dengan selera lokal memberi brand basis pasar yang berbeda dari bisnis makanan yang hanya mengandalkan tren. Namun, kekuatan produk tetap perlu ditopang oleh sistem operasional dan model bisnis yang dapat dijalankan secara konsisten di berbagai outlet.
 

Track record juga tidak berarti sebuah franchise bebas dari risiko. Lokasi, modal, biaya operasional, pengelolaan outlet, dan kondisi pasar tetap memengaruhi hasil setiap mitra. Karena itu, pengalaman panjang sebaiknya menjadi salah satu pertimbangan, bukan satu-satunya alasan untuk memilih franchise.
 

Bagikan